Luluhnya Karang Hati Lelaki
Wednesday, November 29th, 2006Oleh : Dede Farhan Aulawi
Lelaki….adalah lelaki….
Betapapun keras bagai karang…iapun tetap memiliki hati
Meski bukan hati paripurna yang terbungkus kafan suci
Suatu waktu tetap akan luluh oleh nurani
Betapapun gagahnya lelaki…, ia takluk oleh air mata wanita
Betapapun kerasnya lelaki…, ia tunduk oleh senyum manis wanita
Betapapun sulitnya lelaki…, ia luluh oleh perhatian dan ketulusan wanita
Betapapun kuatnya lelaki…., ia lemah ketika bersimpuh di pangkuan bunda
Wahai sang surya yang menyinari pagi…
Pemberi kesegaran dan harapan di tengah sunyi
Jadilah engkau saksi bagi setiap lelaki
Karena lelaki tanpa wanita…bagai pagi gelap nan sunyi
Lelaki sering tenggelam dalam luasnya danau harapan
Tetapi lupa akan dupa penyangga perahu tua
Berkiprah dengan dayung - dayung alakadarnya
Menelusuri riak air nun jauh dari dermaga
Menuju harapan nan tak kunjung datang
Berlayar…berlabuh…berlayar…dan berlabuh kembali…. Itulah lelaki yang
pantang menyerah… Menelusuri setiap jalan kehidupan dengan gagah… Bahkan
sering berlari…terjatuh…terpelanting penuh dengan darah…. Dan sesekali
tampak jelas luka - luka penuh nanah… Denyut derita dan rasa sakit tak
pernah digubris… Bukan ia seolah tak menyayangi badannya…. Bukan ia tak
peduli dengan kebutuhan istirahatnya…. Tapi karena dipundaknya penuh
kerikil tanggung jawab Tuk mengibarkan bendera kebahagiaan…bagi kekasihnya
Tuk mewujudkan impian dan harapan bagi orang yang dikasihinya… Dialah
wanita yang sering dipujanya…. Dilah wanita yang selalu hadir dalam
mimpinya…. Dialah wanita yang sering disebut dalam igauannya… Dialah
wanita yang sering menentramkan hatinya…. Dialah wanita yang sering
dirindu ketika jauh darinya…. Dialah wanita yang sering terpanjat dalam
do’a - do’a malamnya….
Tataplah keriput garis matanya
Garis itu kan bersaksi tentang kesabaran…
Tentang perjuangan hidup, penderitaan dan pengorbanan serta maaf… Telusuri
peta yang ada di wajahnya… Agar tak tersesat dalam membaca dan memberi
penilaian Disanalah terletak sebuah kota bernama ” keikhlasan ” Setiap hari
ia berjuang tak kenal henti… Berusaha menyusun kepingan kesabaran .. Dan
mengumpulkan setiap bulir air mata menjadi ” samudera maaf ” Bagai drama
kecil yang meluruhkan air mata pemirsa… Dengarlah dengan telinga
batinmu….. Disanalah ada kepundan penuh kesunyian Berharap kehangatan yang
enggan dipurnakan… Disanalah ia selalu menanti dengan
kesetiaan….untukmu…. Ya…untukmu seorang…sebagai wanita
terkasihnya… Satu harapku….semoga engkau bahagia slalu. Amien